Sabtu, 22 Januari 2011

Observatorium Bosscha

Posted by Jurnal Bandung on 22.22 0 komentar









Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang bagian utara Kota Bandung, adalah sebuah tempat pengamatan bintang luar angkasa satu- satunya di Negara Indonesia. Sebelumnya observatorium Bosscha ini bernama  Bosscha Sterrenwacht, dibangun oleh perhimpunan bintang Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Didirikan sejak tahun 1928 yang di pelopori oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, mnjadi penyandang dana terbesar dalam pendirian observatorium ini, yang tujuannya  ingain memajukan astronomi Hindia-Belanda pada waktu itu.

Untuk mengenang jasa Mr Bosscha pada pembangunan obeservatorium sebagai salah satu  pelopor observatorium  terbesar seasia tenggara dan dedikasinya dalam mengembangkan ilmu astronomi, maka pemebrian nama observatorium sama pada nama sang pelopor, yaitu “Observatorium Bosscha”.

Sampai saat ini,Observatorium Bosscha memiliki beberapa teropong yang masih berfungsi dengan baik. Yang terbesar adalah Teleskop Double Reflector Zeiss yang beratnya mencapai 17ton. Teleskop utama ini berada di dalam kubah raksasa berdiameter 14,5meter terbuat dari baja setebal 2mm. Teleskop ini khusus digunakan untuk kepentingan penelitian dan tidak bisa dipergunakan masyarakat umum.

Uniknya,atap kubah rancangan KCWP Schoemaker ini bisa terbuka dengan daya listrik 1500 watt. Lantainya juga bisa naik turun untuk memudahkan pengamatan benda langit. Teleskop ini digunakan untuk mengamati bintang-bintang ganda yang berpasangan dalam gugusan bintang,citra detil komet terang,kawah permukaan bulan serta posisi Planet Mars,Saturnus dan Jupiter.

Selain itu terdapat pula teleskop yang ukurannya lebih kecil seperti teleskop Bamberg,Schmidt-Bimasakti,Goto dan teleskop Unitron. Masing-masing telskop itu memiliki fungsi pengamatan tersendiri. Ada yang khusus mengamati rasi bintang,bintik matahari,gerhana bulan-matahari serta benda-benda langit lainnya yang masih asing bagi orang awam.





Seiring berjalanya waktu observatorium ini menjadi tempat wisata yang menarik bagi kalangan pengunjung yang datang, ingin belajar  pengetahuan ilmu astronomi bintang, yang didukung oleh panorama alam yang indah dan suasana yang segar. Sehingga jumlah pengunjung yang datang ke observatiorim ini di batasi kunjungan kepetingan wisata.

Diharapkan keberadaan observatorium ini dapat meningkatkan ilmu pengetahuan asrtonomi bagi peneliti dan menunjang minat wisata edukasi bagi masyarakat ayng dapat bermanfaat.
                                  
Jurnal Bandung/ Wandrik Panca Adiguna


Berita Terkait Lainnya

0 Responses so far:

Leave a Reply